Laman

Rabu, 15 Agustus 2012

Rumahmu

Aku senang duduk di kursi kayu taman, ya taman depan rumahmu. Menunggu pintu rumahmu terbuka dengan sesekali mengayunkan kakiku, sebagai penghilang penat.

Rumahmu teduh, sangat teduh. Membuatku nyaman berlama-lama di sana. Meski beberapa tahun lalu rumah ini didatangi orang yang berlalu lalang untuk mengisi keriangan rumahmu, namun kini sepi, namun tak juga kamu membiarkan ku masuk.

Tapi aku tak mau diam, aku berlari mengitari rumah tempat yang kamu diami, nyaman. Lariku dengan riang, leloncatan seperti anak kecil yang sedang kesenangan. Aku intip rumahmu dari jendela yang kacanya sedikit retak, mungkin pernah terbentur sesuatu yang keras. Belum juga diperbaiki. Aku intip dari kaca yang sedikit berdebu, ku bersihkan dengan lengan bajuku, arahnya memutar. Ku lihat dirimu tersenyum melihatku. Jantungku berdetak semakin kencang, sangat hebat. Samar-samar wajahmu sayu teduh, namun matamu terlihat keresahan mendalam di sana.

Aku berlari menghindari rumahmu. Takut mengganggu, pikirku. Tapi akalku terus berputar, memikirkan bagaimana mengajakmu keluar, menikmati indah bersama, aku dan kamu
Tangga sudah ku siapkan, aku sedang ingin membuatkan pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kuwarnai langit rumahmu dengan simpul pelangi yang indah.

Ya, aku sedang menarik perhatianmu, cara entah kesekian kalinya aku berbuat ulah agar kamu memperhatikanku. Namun, kamu hanya mengintip dari balik jendela, lalu kembali menarik kain penutup jendela.

Hujan deras mengguyur rumahmu, menghapus pelangiku untukmu. Aku duduk di kursi tamanmu, menggigil. Dingin, sangat dingin. Sama seperti sikapmu. Kembali ku lihat kamu mengintip di jendela menatap ku iba. Tapi kembali lagi kamu menarik kain penutup jendela tersebut.

Suatu hari aku menemukan tulisan di rumahmu, "Tunggu, ku perbaiki dulu rumah ini. Akan ku bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu."

Aku menunggu, waktupun berlalu. Rumahmu belum juga diperbaiki, pintunya pun tak juga terbuka untuk membiarkan ku masuk. Aku termenung, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku? Mungkin aku harus pulang, dengan meledak-meledakan balon berisikan asa untukmu.

Aku pulang, mungkin rumahku belum cukup huni jika kita nanti bertukaran rumah. Aku akan buat rumahku nyaman, untuk kamu siap huni nantinya.

posted from Bloggeroid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar